Hakikat Percintaan dalam Islam
>> Rabu, Desember 31, 2008
Assalamua'laikum sahabat,
Mari kita renungkan suasana disekitar kita pada hari ini. Berbagai kejadian yang terjadi pada manusia dapat kita saksikan. Oleh karena ini maka timbullah juga berbagai gejala yang kurang sehat bahkan banyak yang bertentangan dengan syar’iat Islam yang sesungguhnya. Merajalelanya berbagai masalah ini sudah menjadi suatu aktivititas rutin orang-orang disekitar kita. Bahkan ada segolongan kaum yang menganggap perkara ini adalah sesuatu yang bersifat 'harus' dilakukan atau dengan kata lain sering disekitar kita ini akan hilang tanpa adanya perkara yang sedemikian itu.
Amatlah sangat ditakuti sekiranya pemikiran-pemikran begini terus merajalela, sehingga suatu masa nanti ada yang bakal mengatakan bahwa “Ia tidak bertentangan dengan Islam”. Apa yang paling menyedihkan dan menduka-citakan lagi kebanyakkan 'pelakon-pelakon' ini terdiri dari kalangan yang mengaku diri mereka seorang 'muslim'.
Apa yang coba diketengahkan dalam tulisan ini ialah sebagian daripada kerusakan yang terdapat dalam alam persekitaran kita dan khususnya ruang di mana kita berada pada hari ini. Sama suka atau tidak, apa yang dapat kita saksikan pada hari ini, remaja sudah tergiur dengan keenakan hidangan dunia sehingga tidak sadar bahwa itu membahayakan bagi mereka. Salah satu permasalahan yang sering kita temui dan sudah menjadi suatu 'trend' bagi golongan remaja adalah 'percintaan' atau lebih akrabnya lagi dengan kata pacaran. Telah banyak kisah yang terdengar dibalik kalimat indah ini termasuklah keributan, keresahan, kerusakan dan kebejatan masyarakat yang timbul sehingga kadang kala ada yang rela nyawanya melayang atau rela akidahnya ternodai hanya kerana kalimat nan amat indah ini. Apa yang jelas dan pasti fenomena percintaan ini banyak kita jumpai dalam masyarakat kita.
Persoalannya, adalah Islam mempunyai ruang kebenaran untuk 'bercinta-cintaan' mengikut konsep muktahir yang dipegang oleh masyarakat kita ? Mari kita kembali kepada fakta utama yang menimbulkan permasalahan ini. Dari kajian secara dalam dan menyeluruh(al-fikrul al-mustanir) terhadap realita (waqi’ dapat dibuktikan bahwa pergaulan bebas adalah benih dari segala permasalahan di atas. Bagaimana pula pergaulan bebas ini boleh berlaku ? Jawaban bagi soalan ini seratus peratus berpuncak dari sistem yang kita agungkan pada hari ini yaitu sistem kapitalisme. Sama dengan kita sadar atau tidak, kita telah lama meninggalkan nidzamul ijtima'i secara Islami yang seharusnya menjadi landasan kita dalam menguruskan kehidupan ini dan bukannya sistem yang tempang ! Mengapa pula terjadinya jalinan kasih-sayang terhadap insan lawannya ? Kecenderungan menyukai insan yang berlawanan dengan kita adalah satu fitrah manusia yang mempunyai gharizah Al-nau' (naluri untuk mengadakan keturunan). Islam mengakui akan hal ini oleh itu Allah, Sang Pencipta yang berkuasa telah menggariskan beberapa peraturan untuk memenuhi gharizah ini.
Jalinan hubungan kasih sayang dalam konsep percintaan pada kondisi hari ini berlaku antara dua manusia lawan jenis disebabkan oleh standard (piawai) yang mereka gunakan untuk mengukur setiap perbuatan yang mereka lakukan bukan berdasarkan aqidah Islam dan konsep pergaulan yang mereka gunakan bukannya berdasar dari aqidah Islam. Oleh sebab itu, bagi mereka pendidikan seks adalah penyelesaian bagi mereka. Maka dari kajian realiti akan faktor yang mendorong kewujudan percintaan muktahir ini maka muncul pemahaman bahwa percintaan haram hukumnya. Sebagai seorang muslim, kita seharusnya mempunyai suatu standard tindak laku (miqyasul a'mal) yang jelas dalam melakukan sesuatu perbuatan yakni berdasarkan hukum syara' (Al-Quran dan Sunnah). Sebagai contoh, Rasulullah s.a.w telah bersabda:
"Janganlah sekali-kali berdua-duaan antara seorang lelaki dan seorang perempuan atau berpergian dengannya melainkan disertai muhrimnya" [Al-Hadith]
Sabda baginda lagi:
"Sungguh aku (Rasulullah) benar-benar mengetahui beberapa umatku, datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar perbuktian (yang nampak putih) lalu Allah menjadikannya berhamburan/berkecai sia-sia. Tsauban bertanya : Ya, Rasulullah jelaskan kepada kami sifat-sifat mereka, kerana kami khuatir termasuk seperti mereka sedang kami tiada menyedarinya. Jawab Rasulullah: Mereka adalah saudaramu yang melakukan ibadah di malam hari, tapi apabila mereka bersunyi-sunyi dengan yang diharamkan oleh Allah, mereka mengganggu kehormatannya" [Al-Hadith]
Dari kedua hadis tersebut maka sudah jelas pergaulan bebas antara lawan jenis walau apapun namanya termasuk 'adik angkat' tetap haram hukumnya. Juga dari hadis-hadis lain kita dapat menyimak bahawa para sahabat pada ketika itu sangat kuat keterikatannya terhadap hukum Islam, contohnya apabila disampaikan hal seperti hadis kedua tadi para sahabat akan segera bertanya kerana mereka khuatir mereka pernah melakukan perkara yang tidak sesuai dengan Islam tanpa disadari dan apabila telah dijelaskan mereka segera meninggalkan atau melaksanakan apa yang dituntut oleh Islam. Dari sinilah dapat dilihat bahwa kayu ukur bagi tindakan mereka adalah aqidah Islam yang tulen. Tapi, masihkah wujud keadaan demikian pada hari ini ? Adakah kita menjadikan aqidah Islam sebagai kayu ukur bagi tiap tindakan kita atau kita akan melakukan sesuatu itu berdasarkan manfaat yang bakal kita perolehi.
Apa yang nyata pada zaman perkembangan teknologi ini, segolongan para remaja muslim yang seharusnya mengikatkan diri mereka dengan aturan Islam memberikan reaksi yang sebaliknya apabila disampaikan bahwa percintaan/pacaran haram. Mereka tidak bersetuju dengan apa yang disampaikan karena mereka akan kehilangan 'manfaat' atau keindahan 'cinta' pada pandangan mereka. Kenapa ini terjadi ? Ini disebabkan oleh kedangkalan pemikiran mereka terhadap Islam dan menyebabkan remaja muslim terpesong dari jalur Islam sama dengan kita disadari atau tidak kerana mereka sering beranggapan percintaan itu dibolehkan dalam Islam bahkan dianjurkan.
Telah banyak kita dengar atau terbaca akan pengertian percintaan. Maka ada dua kemungkinan pengertian mengenai pacaran:-
• Perasaan seorang lelaki ingin mencintai perempuan atau sebaliknya.
• Dua insan yang lawan jenis yang saling mencintai.
Perlu diingat, kita seharusnya dapat membedakan kedua-dua pengertian di atas. Pengertian yang pertama di atas yakni perasaan untuk mencintai insan lawan jenis adalah masalah yang mendasar yang mempunyai kaitan erat dengan fitrah /kudrat manusia seperti yang telah dijelaskan awal penulisan ini. Allah telah menganugerahkan manusia naluri untuk meneruskan keturunan (salah satunya-menyukai kaum berlawanan jenis) atau dikenali dengan gharizah Al-Nau'. Ini merupakan salah satu naluri manusia dari yang tiga iaitu gharizah Al-baqa' (naluri untuk meneruskan kehidupan/mempertahankan), gharizah Al-Tadayyun (naluri untuk menyembah/beragama) dan gharizah Al-Nau'. Jadi adanya perasaan itu sememangnya sudah fitrah manusia dan perkara ini wajar dan tidak haram di sisi Islam. Firman Allah:
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia berupa kecintaan pada apa yang diingini, yakni wanita…" [Ali-Imran: 14]
Persoalan berhubung bagaimana untuk meneruskan perasaan cinta itu adalah hak Islam(Allah) untuk mengaturnya. Sedangkan pengertian yang kedua pula berkaitan dengan pengungkapan dan perasaan cinta itu dengan berdua-duaan, saling berboncengan, saling berpandangan kemudian melangkah setapak lagi dengan berpegangan tangan dan yang paling kronis lagi berani berciuman dan sanggup menyerahkan ‘segalanya’ demi cinta mereka. Inilah yang haram menurut Islam. Islam sebagai satu sistem hidup/Ideologi/Mabda'/Deen yang lengkap telah mengatur pergaulan antara kaum yang berlainan jenis. Islam memerintahkan seorang lelaki atau perempuan agar menundukkan pandangan mereka (bukan berarti harus memalingkan muka atau tunduk) tetapi tunduk dalam arti kata menahan pandangan yang disertai syahwat, seperti yang tersebut pada firman Allah:
"Suruhlah orang-orang yang beriman menundukkan pandangannya dan memelihara kehormatannya…" [An-Nur : 31]
"Dan suruhlah wanita-wanita mukmin menundukkan pandangannya dan memelihara kehormatannya dan janganlah memamerkan kecantikannya kecuali bagian badan yang boleh kelihatan (muka dan telapak tangan) dan supaya menutup dadanya dengan kerudung(khimar)..."[ An Nur 31]
Dua kalimat perintah di atas menjelaskan di samping untuk menahan pandangan antara lelaki dan perempuan turut diperintahkan untuk menutup aurat baik lelaki atau perempuan. Memang tidak dinafikan sehingga hari ini masih ada golongan yang beranggapan bahawa memakai jilbab(pakaian labuh) dan khimar(tudung) merupakan satu perkara yang tidak modern atau ketinggalan zaman. Padahal perlu ditegaskan bahwa seorang muslimah selamanya akan berdosa jika tidak mengenakan jilbab dan khimar yakni menutup seluruh anggota tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Adalah silap seandainya kita beranggapan berjilbab dan khimar itu sudah memadai tetapi sekiranya berpakaian ketat atau yang menampakkan lekuk tubuhnya sehingga boleh menimbulkan syahwat bagi yang memandangnya masih dikira tidak menutup aurat. Begitu juga seorang lelaki wajib menutup auratnya yang sebatas pusat dan lutut dan tidak boleh dilihat oleh orang lain kecuali muhrimnya. Juga selamanya seorang muslim akan terus berada dalam keadaan berdosa selama dia masih berada di bawah naungan 'percintaan'. Jadi di samping kita paham mengapa percintaan itu haram kita juga harus paham bahwa menutup aurat itu wajib hukumnya untuk kaum muslimin. Lalu ada yang berdalih bahwa untuk memahami calon suami atau isteri kita harus banyak bergaul (pacaran). Pernyataan ini dan yang seumpamanya merupakan pernyataan yang dibuat-buat dan hanya sebagai dalih untuk mengatakan percintaan itu dibenarkan dalam Islam. Adakah hanya dengan jalan ini sajalah kita dapat memahami peribadi seseorang ?
Seperti yang telah dinyatakan sebelum ini Islam itu suatu mabda' yang lengkap. Dalam Islam ikatan antara lelaki dan perempuan hanya ada dua yaitu pinang/tunang(khitbah) dan nikah. Jadi persoalan untuk memahami peribadi seseorang yang kita sukai itu boleh ditanyakan kepadanya(wanita) dengan niat yang benar-benar kuat untuk menikahinya. Akan tetapi wanita tetap harus disertai muhrimnya. Jadi, sekiranya alasan kerana tidak saling kenal mengenali peribadi yang disebabkan tiadanya proses percintaan akan menimbulkan salah faham atau seumpamanya, maka alasan tersebut merupakan alasan yang dicari-cari.
Meminang adalah cara Islam untuk suatu pernikahan. Menikah tidak dilakukan begitu sahaja tanpa pikir panjang, ada cara untuk mewujudkan dan meyempurnakan dengan meminang . Islam membolehkan orang yang meminang melihat yang dipinang dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Islam. Tetapi meminang itu sendiri bukanlah berarti sudah separuh resmi sebagai suami-isteri atau sebagai lesen untuk melakukan perkara-perkara yang boleh dilakukan seperti pasangan suami-isteri atau bebas dibawa ke sana-sini tanpa mengenal batas. Berhubung dengan tindakan melihat wanita yang dipinang, Rasulullah SAW telah bersabda kepada salah seorang sahabatnya yaitu Mughirah ibn Syu'bah:
"Pergilah dan lihatlah dia (calon isteri) kerana itu pantas agar menjadi dasar atau pedoman bagi kalian berdua" [Sunan Ibnu Majah, juz 1 hal 599]
Kesimpulannya, tidak ada ruang atau kebenaran yang menghalalkan proses percintaan apatah lagi dengan konsep percintaan mukhtahir ini. Sekali haram yang dikatakan dalam syara' maka selamanya haram. Hukum Islam tidak akan berubah disebabkan oleh perubahan waktu dan keadaan. Banyaknya perceraian bukanlah suatu hal yang boleh menghalalkan proses percintaan itu. Ia akan terus tetap haram. Tidak pernah akan berubah menjadi Halal. Penulisan ini diakhiri dengan suatu pertanyaan yang memerlukan jawaban yang ikhlas seikhlas-ikhlasnya, sudahkah kita sebagai seorang muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan rasulNya mengikat diri kita dengan aturan Allah??
0 comment:
Posting Komentar